Resensi "Flying Colors"
TIDAK ADA MURID BODOH
YANG ADA HANYALAH GURU YANG TIDAK
BISA MENGAJAR
(Neng Gina Rahma - 1174020116)
Judul : Flying
Colors / Flying Colors : How a Teen Girl Went From Academic Absurdity to an
Elite University in One Amazing Year
Judul Lainnya : Biri Gyaru
Genre : Family, School, Remaja
Sutradara : Nobuhiro Doi
Penulis Naskah : Nobutaka Thubota dari novel, Hiroshi
Hashimoto
Negara : Jepang
Di Tayangkan : 1 Mei 2015
Durasi : 117 Menit
Sayaka adalah mudir SMA di sebuah sekolah di luar Tokyo. Sejak
kecil dia sulit bergaul dengan teman-temannya hingga ia sering benpindah-pindah
sekolah namun tetap tidak memiliki teman. hingga suatu saat sebuah sekolah dengan
seragam yang cantik menarik perhatian Sayaka dan membuatnya bersekolah di sana
hingga ia bertemu dengan teman-teman yang menjadi sahabat-sahabatnya hingga
dewasa.
Pertemanan mereka dipenuhi dengan bermain dan berhura-hura. Tidak
peduli dengan nilai hingga Sayaka memiliki nilai terrendah di sekolahnya. Rok sekolahnya
sangat endak da nisi tas hanya hanyalah alat kecantikan, bahkan guru di
sekolahpun banyak yang protes dengan sifat Sayaka. Merasa khawatir dengan masa
depan Sayaka, Aachan (Ibu sayaka) memasukan sayaka ke sebuah khursus bimbingan
kelas.
Di kelas tersebut Sayaka bertemud engan guru pembingnya
bernama Tsubota. Tsubota merupakan seorang guru tutor yang hebat, mengajarkan
setiap muridnya dengan metode yang berbeda dan selalu memberikan motivasi dan
pemikiran positifnya pada setiap orang. Ia memiliki motto yang unik pula
“Tidak ada murid yang bodoh, yang ada
hanyalah guru yang tidak bisa mengajar”
Berkat Thubita sensei pula Sayaka menemukan tujuan nya untuk
lulus di Universitas Keio. Sebuah universitar ternama di Tokyo. Dan hanya
sangat kecil kemungkinan Sayaka lulus mengingat Sayaka adalah murit ter rendah
di sekolahnya. Bahkan saat di tes awal kecerdasan Sayaka hanya secatara dengan
kelas 4 SD saja.
Film dengan judul internasional “Flying Colors” ini
merupakan tontonan yang sangat memotifasi dalam berbagai aspek. Cerita dan
konflik yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari tersebut di kemas dengan
sangat apik. Film ini memperlihatkan nilai-nilai kehidupan dari segala arah. Mulai
dari seorang ayah yang hanya fokus pada adik laki-laki Sayaka agar adiknya itu
menjadi pemain pro baseball nasional
hingga melupakan bahkan menganggap rendah anak perempuan, ada ibu Sayaka yang
seorang pekerja keras melakukan segala hal dan sabar mendidik dan mengurus ke
dua anak perempuannya, ada sahabat-sahabat Sayaka yang walaupun mereka nakal
dan terkesan memiliki pergaulan negative, mereka tetap mendukung Sayaka hingga
memutuskan tidak bermain dengan Sayaka agar Sayaka fokus belajar, tentunya ada
pembelakaran pula untuk guru dimana film tersebut memperlihatkan guru yang
meragukan kepintaran siswa dan guru yang membangun semangat siswa, dan tentunya
ada Sayaka seorang anak yang semangat mencapai tujuannya walau banyak yang
beragukan bahkan dari berbagai arah.
Film ini merupakan adaptasi dari sebuah novel kisah nyata
yang ditulis oleh sang tutor sendiri dengan nama asli Tsubota Nobutaka. Judul
asli dari film berasa dari negara Jepang ini juga cukup panjang, yaitu “Gakunen
Biri no Gyaru ga 1 nen de Hensachi o 40 Agete Keio Daigaku ni Geneki Gokaku
Shita Hanashi” yang jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi “Bagaimana
Seorang Gadis Remaja Beranjak dari Absurditas Akademik ke Universitas Elite
dalam Satu Tahun yang Menakjubkan”.
Film yang dikemas unik dalam 117 menit dan dibumbui dengan
unsur komedi ini sangat luar biasa menarik perhatian public hingga memiliki
ratting 7,4. Bahkan setidaknya 2 penghargaan didapatkan dari film untuk
pentonton 15+ ini untuk kategori Newcomer of The Year di Award of The
Japanese Academy 2015 yang dianugerahkan pada Kasumi Arimura sebagai
pemeran utama dan kategori Best
Supporting Actress di Hochi Film Award 2015 yang dianugerahkan pada Yo
Yoshida, pemeran ibu Sayaka.
Komentar
Posting Komentar